• perangkat KBM
  • Minggu, 15 Agustus 2021

     SELEKSI LOMBA  KEGIATAN IGTKI - PGRI

    MATERI MENDONGENG TANPA ALAT

    YANG BERJUDUL

    MUCIL DAN KERA YANG SOMBONG





    KARYA

    YUYUN PUSPA DEWI,S.Pd





    TAMAN KANAK-KANAK TUNAS HARAPAN AIR PUTIH

    KECAMATAN LUBUK BATU JAYA KABUPATEN INDRAGIRI HULU RIAU

    2019

    PROFIL PENULIS





    Yuyun Puspa Dewi, S.Pd . Lahir di Batujajar, 01 Desember 1979.Pendidikan dari SDN SINARJAYA II , MTs Al- IHSAN BATUJAJAR,MAN 01 CILILIN KABUPATEN BANDUNG dan lulus Sarjana Pendidikan Tahun 2017 di FKIP PGPAUD-UT UPBJJ PEKANBARU. Guru Kelas di TK TUNAS HARAPAN Air putih sejak Januari 2015.














    KARAKTER TOKOH DONGENG


    Mucil {Semut Kecil}(pekerja keras, patuh dan suka berteman)

    Kera (angkuh dan sombong)

    Ibu Ratu Semut (penyayang dan bijaksana)













    Mucil dan Kera yang sombong

    Dipinggiran sungai terlihat  seekor Semut kecil  sedang berusaha menyeret sepotong roti yang di temukan diantara tumpukan sampah-sampah bekas orang yang mancing ikan, dengan sekuat tenaga Mucil  mencoba membawa sepotong roti itu menuju sarangnya. Namun apalah daya Mucil tak kuat jika sendirian membawa sepotong roti itu.Di perjalanan Mucil  bertemu dengan Kera   yang kebetulan lewat di pinggiran sungai itu.

    “Hai semut sedang apa kamu sendirian disini?” tanya kera.

    “ooohhh..,aku sedang mencari makanan wahai kera.” Jawab Mucil.

    “kebetulan jumpa kamu disini, bisakah kamu membantuku?” tanya Mucil penuh harap.

    “bantu apa?” tanya Kera balik bertanya.

    “tolong bantu aku bawakan sepotong roti ini ke sarang kami!” pinta Mucil.

    “ waaahh...aku sedang sibuk! Jadi aku tak bisa membantumu.” Jawab Kera  dengan sombongnya,

    “oh ya sudah  tidak apa-apa, biar aku cari teman-temanku yang lain.” Jawab Mucil meninggalkan si Kera yang sombong.Tak lama Mucil berjalan terlihat beberapa ekor semut datang dan menghampiri Mucil yang sedang kebingungan.

    “hai Mucil, apakabar? Kamu sedang apa di pinggiran sungai ini?  Padahal cuaca  akan turun hujan.“ tanya semut yang lain sambil bersalaman, berpelukan satu sama lainnya.

    “aku baik-baik saja teman, hanya aku sedang bingung bagaimana caranya aku membawa sepotong roti ini ke sarang kita?” jawab Mucil menjelaskan.

    “ Mengapa harus bingung Mucil? Kitakan bersaudara jadi kita bisa bergotong royong membawa roti ini ke sarang kita.” Jawab semut yang lain. Mereka bergegas mengatur strategi  bagaimana bisa membawa sepotong roti ini dengan cepat ke sarang mereka.

    “1...2..3... ayo angkat” mereka bersahutan menghitung aba-aba mulai.Dengan semangat Mucil dan teman-teman membawa sepotong roti itu  menuju ke sarang mereka.

    Namun tanpa mereka sadari si Kera masih memperhatikan Mucil dan teman-teman.Kera mengikuti lperjalanan Mucil sambil bergelantungan memamerkan makanan yang di dapatnya.

    “Hai semut-semut bodoh...!  hanya  sepotong roti saja jadi rebutan, tidak bakalan kenyang!” kata Kera menghina.

    “ Kami bukan berebut roti ini Kera, tapi beginilah cara kerja kami yang sudah ibu Ratu contohkan pada kami” jawab Mucil menjelaskan.

    “ Pantas saja badan kalian tak bisa  tumbuh besar dan pintar sepertiku , kalian harus bekerja keras mencari makan tapi diberi makannya sedikit.!” Kata Kera kembali mengejek Mucil dan teman- temannya.

    “Hemmmmmmmm” gumam Mucil dalam hati,

    Mucil dan teman-teman terus berjalan  menyusuri pinggiran sungai dan bertemu ibu Ratu disana.

    “Salam Hormat kami Ibu Ratu...” kata Mucil dan teman-teman memberi hormat pada Ibu Ratu pemimpin mereka.Ibu Ratu yang selalu membimbing, melindungi serta merawat mereka sejak kecil dengan penuh kasih sayang.

    “Salam kembali wahai anak-anakku, darimana saja kalian?” tanya Ibu Ratu cemas

    “Ibu sangat khawatir dengan keadaan kalian yang tak tak kunjung pulang ke  sarang.” Kata ibu Ratu.

    “Kami baik-baik saja Ibu,kami bawakan makanan walau hanya sepotong roti untuk bekal makanan kita bersama-sama.” Jawab Mucil  mewakili teman-temannya.

    “Alhamdulillah, ayo ibu  Ratu bantu bawakan” kata ibu Ratu 

    Begitulah keseharian sekelompok semut yang  patuh pada perintah Ibu Ratu yang selama ini melindungi dan menyayangi mereka semua,mereka bekerja keras mencari dan membawa makanan secara bekerjasama bergotong royong,saling menyapa dan berjabat tangan sesama teman serta tidak sombong.

    Namun di sepanjang perjalanan Mucil, Ibu Ratu dan semut-semut lainnya ternyata si Kera yang sombong  terus bergelantungan mengikuti.

    “benar-benar bodoh ya kalian itu, wahai semut!”biarkanlah Ibu Ratumu yang membawa sepotong roti itu, badan Ibu Ratu kan lebih besar pasti kuat membawanya sendirian.” Kata Kera kembali mengejek.dengan asyiknya Kera bergelantungan dari dahan setiap pohon yang semut lalui sambil makan pisang dan terkadang membuang bekas gigitannya ke arah rombongan semut.

    “ nich... aku  bantu bagi makanan untuk kalian semut” kata Kera sambil membuang potongan pisang yang hampir saja mengenai tubuh Mucil dan teman-temanya. Begitu sombongnya sikap Kera sehingga sikap dan perkataannya  suatu saat akan jadi malapetaka buat si Kera.

    “ aduh...! sakit tau!” kata Mucil yang terkena jatuhan potongan pisang.

    “Awas ya Kera akan aku balas!” kata Mucil kesal.

    Menyaksikan kelakuan si Kera Ibu Ratu sangat khawatir dengan keselamatan anak-anaknya, dan Ibu Ratu mencoba menenangkan anak-anaknya.

    “sabar nak, jangan terpengaruh dengan ucapan si Kera. Biarkan dia kena karmanya sendiri.” Tegas ibu Ratu pada Mucil yang masih merasa kesakitan.

    “ayo kita lanjutkan perjalanan,” ajak Ibu Ratu

    Tak lama waktu berlalu terdengar teriakan dan rintihan kesakitan si Kera dari kejauhan

    “Aduuuuuuuuhhh....sakiiiittt.....”

    “Aduuuuuuuuhhhh...ampuuuun...!” teriak si Kera berulang kali terdengar.

    Setelah di dekati ternyata si Kera menabrak sarang lebah yang tergantung di antara dahan-dahan pohon yang di laluinya.Si kera tak memperhatikan jalan sehingga tanpa dia ketahui ada sarang lebah dan ditabraknya.Tak bisa mengelak lagi, merasa lebah-lebah itu terusik dan sarangnya jadi rusak akhirnya mereka menyerang balik si kera dengan menyengat tubuh kera beramai-ramai.Itulah balasan bagi siapapun yang suka menghina, mengejek serta sombong kelakuannya.





     


    Pembelajaran yang bisa di petik dari kisah dongeng ini adalah upaya penguatan pendidikan karakter anak usia dini  diantaranya:

    Bersyukur atas nikmat rezeqy Tuhan .

    Saling menghargai dan menyayangi sesama makhluk Tuhan.

    Kerjasama dan gotong royong.

    Bekerja keras dan pantang menyerah.

    Hormat dan patuh pada perintah orangtua

    Mau berbagi makanan

    Hemat dan tidak menghambur-hamburkan makanan

    Tidak berkata kotor dan mengejek oranglain.

    16 komentar:

    1. Bagus Bun,saya saja belum bisa bun

      BalasHapus
      Balasan
      1. Alhamdulillah, terima kasih bunda. Tetap semangat juga ya bun

        Hapus
    2. Keren,,,,terus berkarya❤️❤️

      BalasHapus
    3. Asalamualaikum..terus lah berbagi ilmu tetap semangat untuk bunda dewi🥰

      BalasHapus
      Balasan
      1. Waalaikumsalam bunda, insyaallah kita akan sharing pengalaman dan ilmunya. Terimakasih bunda🙏❤️

        Hapus
    4. Assalamualaikum, keren banget bunda

      BalasHapus
    5. Keren ceritanya bun...
      Sukses slalu dlm brkarya

      BalasHapus
    6. Mantap uti say.. Terus berkarya uti..

      BalasHapus