• perangkat KBM
  • Minggu, 15 Agustus 2021

    PERAN ORANGTUA DALAM PERLINDUNGAN ANAK UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTER SEJAK USIA DINI

     

    PERAN ORANGTUA DALAM PERLINDUNGAN ANAK UNTUK  PEMBENTUKAN KARAKTER SEJAK USIA DINI



    Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan Pendidikan nasional. Pasal 1 UUD

    Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah

    mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan

    ahlak mulia. bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan ‘’Indonesia yang cerdas, namun juga kepribadian atau karakter,sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 26 tentang Kewajiban dan Tanggung Jawab Orangtua dan Keluarga untuk Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak serta menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya.

    Seperti kita ketahui saat ini banyak kita saksikan baik secara langsung maupun melalui media tentang tindakan kekerasan, pelecehan maupun tindakan kriminal lainnya yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak kecil baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu,saat ini juga banyak orang yang beranggapan bahwa anak-anak sekarang kurang memiliki sopan santun dan tidak dapat menunjukan perilaku yang baik. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh lingkungan dan pengaruh kemajuan teknologi yang sangat pesat.

    Penerapan pendidikan karakter pada anak usia dini dapat dituangkan dalam program harian, yaitu tentang kepribadian anak, kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab sehingga anak siap mengikuti pada jenjang pendidikan selanjutnya dan masa dewasanya. Salah satunya adalah menyiapkan anak didik yang berkarakter. Peran orang tua menjadi sangat penting dalam pembentukan karakter anak untuk siap menghadapi dunia di masa yang akan datang.Peran Orangtua  adalah sebagai Sumber informasi, Pendamping dan Role Model  karena pada awalnya anak akan meniru perilaku orang tuanya, karena orang tua adalah orang pertama yang dekat pertama yang dekat dan dikagumi oleh anak. Ada 3 kunci untuk mendekati anak yaitu Diri sendiri, Komunikasi Efektif dan Pengetahuan disesuaikan dengan tahapan perkembangan generasi masing masing.yaitu Generasi Pejuang, Generasi X, Generasi Millenial( pesatnya Teknologi), Generasi Z(Generasi instan 1995-2000) atau Generasi Alpha (Lahir sekitar tahun 2011 – 2024) karena setiap generasi tidak bisa disamakan bagaimana cara penyampaiannya.Orangtua harus bisa mengimbangi dan memfasilitasi dengan bijak, AJAK dan AJARKAN  pendidikan agama, sopan santun, tingkatkan daya juang agar tidak mudah bosan tetap bersemangat memecahkan masalah yang dihadapinya.

    Lingkungan rumah juga berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Hal ini dapat terlihat dari cara berpakaian, bersikap, dan berperilaku sehari- hari seorang anak yang biasanya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang ada dalam lingkungan rumahnya. Ibarat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kesuksesan orangtua membimbing anaknya di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya. Mereka akan tampil sebagai orang-orang yang senang belajar, terampil menyelesaikan masalah, berkomunikasi dengan baik, berani, jujur, dapat dipercaya dan diandalkan, penuh perhatian, tolerensi luwes serta bias bersaing dalam kehidupan social di masa dewasanya kelak.

    Dalam situasi dan kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang, ketercapaian  keberhasilana pembentukan karakter akan lebih berpeluang dengan banyaknya waktu kebersamaan anak dan orangtua di rumah. Orangtua menjadi "Rollmodel" dalam setiap perkembangan anak. Maka berhati- hatilah dalam ucapan dan tindakan.jangan sedikit banyak hanya menilai kesalahan dan kekurangan anak, tanpa menyadari kekurangan dan kesalahan orangtua terhadap anak yang selalu menuntut anak berperilaku benar.

    Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan pada anak usia dini

    mencakup empat aspek, yaitu: aspek spiritual, aspek personal/kepribadian,

    aspek sosial, dan aspek lingkungan. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan  Materi pendidikan karakter tidak identik dengan mengasahkan kemampuan kognitif, tetapi pendidikan ini adalah

    mengarahkan pengasahan kemampuan afektif. Metode pembelajaran karakter

    ini dapat dilakukan dengan cerita-cerita keteladan seperti kisah-kisah

    keteladan Nabi dan Rasul, pahlawan-pahlawan.

    Selain dengan metode bercerita, dapat dilakukan dengan contextual learning,

    yaitu dalam setiap pembelajaran anak-anak diberikan contoh kegiatan yang

    baik secara langsung, diperlihatkan dalam tindakan-tindakan yang dilakukan

    oleh pendidik.

    Kejujuran.

    Disiplin

    3. Hal-hal yang harus diperhatikan orang tua dalam penerapan nilai-nilai

    karakter

    Penerapan nilai-nilai karakter anak, sebagai orang tua,kita perlu membiasakan

    perilaku-perilaku yang baik sejak dini. Dengan memberikan pendidikan karakter

    sejak usia dini berarti kita menyiapkan masa depan anak. Seperti ketika

    membangun bangunan yang kokoh kita membutuhkan pondasi yang kokoh.

    Pondasi disini merupakan penanaman nilai-nilai positif berupa dasar-dasar

    spiritual yang bagus. Pendidikan karakter yang dapat dimulai dari rumah,

    diantaranya :

    Dengan membiasakan sikap jujur kepada anak sejak usia dini maka akan

    menjadi kebiasaan yang baik untuk anak kedepannya. Contoh penerapannya :

    hargai jika anak mau berkata jujur. Jangan langsung marah ketika anak

    berkata jujur tentang kesalahannya, karena itu akan membuat anak takut untuk

    berkata jujur kembali. Ketika anak sudah mau berkata jujur maka berilah pujian

    agar anak selalu berani berkata yang sebenarnya.

    Contoh tahapan mendisiplinkan anak untuk membereskan mainannya setelah

    digunakan: (1) mainan yang tadinya berantakan dibereskan masuk ke kotak

    kembali, (2) katakan pula kegunaannya bila anak membereskan mainannya

    yaitu anak tidak akan kehilangan mainannya dan mudah untuk mencarinya

    kembali bila ia ingin memainkannya lagi (tahap kedua ini bisa diulang-ulang

    dengan tanya jawab dengan anak), (3) Puji anak bila tingkah lakunya sudah

    1 2 NILAI-NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN

    SAAT BELAJAR DARI RUMAH

    Mau berbagi,

    Mandiri.

    Dasar dan lambang negara.

    Sikap toleransi,

    salah satu upaya menanamkan sikap toleransicinta damai, dan bersatu, yakni

    dengan menampilkan aneka poster agama-agama di Indonesia, rumah adat,

    serta kesenian tradisional. Ajari anak untuk menghargai perbedaan yang ada

    dengan bersikap baik. Contoh anak memiliki teman beda agama dalam satu

    kelas. Katakan kepada anak untuk tetap membantu teman tersebut saat

    mengalami kesulitan. Kemudian, ajari anak menghargai ibadah teman yang

    berbeda agama dengan tidak mengganggunya, untuk memunculkan rasa cinta

    damai dalam diri anak,. Wujudkan rasa cinta tanah air melalui kegiatan lombalomba

    di sekolah. Semisal, dengan mengadakan lomba pentas seni bertema

    budaya Indonesia dan kompetisi menyanyikan lagu nasional.

    Penggunaan HP, TV dan computer tidak sesuai dengan kebutuhan dan aturan

    dari orang tua.

    baik yaitu membereskan mainannya dan memasukkannya ke dalam kotak, (4)

    Bisa terus diulang sampai kedisiplinan yang diinginkan menjadi menetap pada

    anak.

    menolong, dan kerja sama. Salah satu kemampuan sosial yang harus dimiliki

    oleh anak,yaitu sikap empati, sehingga ia mampu untuk mengerti dan

    memahami orang lain. Contohnya: membiasakan anak untuk berbagi. Misalnya,

    sedekah untuk membantu sesama, menghibur temannya yang sedang sedih.

    Sedangkan dalam penerapan menolong adalah anak menolong adiknya yang

    jatuh, sedangkan Untuk melatih kerja sama pada anak, contoh seorang anak

    membantu orang tua untuk menyiram tanaman yang ada di lingkungan sekitar

    rumah dan anak juga membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, seperti

    menyapu, mengepel lantai, mencuci/ menjemur pakaian, mencuci piring.

    Contoh penerapannya. Misalnya, usahakan anak makan sendiri, mengambil

    minum, dan merapikan peralatan belajarnya secara mandiri. Dengan begitu, si

    kecil merasa siap menghadapi kehidupan di masa mendatang.

    Contoh untuk mengenalkan dasar dan lambang negara pada anak adalah

    dengan menyusun puzzle sesuai dengan lambang yang ada, mewarnai,

    menggambar, menggunting dan menempel bendera/lambang negara.

    Contohnya cara mengatasinya: menyeleksi beberapa game dan aplikasi yang

    membuat anak dapat belajar membaca, berhitung, atau hal lain yang

    bermanfaat,

    0 komentar:

    Posting Komentar