KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Buku Kumpulan Puisi “ Rekam Jejak dalam Sajak “ ini. Buku ini berisi puisi-puisi kehidupan sehari-hari yang direkam Penulis dalam gawai setiap peristiwanya.Berbagai perasaan muncul menjadi satu mewakili setiap peristiwa yang dialami tanpa bermaksud menyinggung siapapun yang mungkin kebetulan sama perasaan , tempat dan waktu yang tersusun dalam puisinya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada suami tercinta (Asep Supriatna) dan Putra-putri tercinta (Aa Hafizh, Aa Ihsan dan Neng Jihan) yang telah banyak memberi dukungan dan pengertiannya selama Penulis menyusun puisi-puisinya.
Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat untuk Penulis khususnya dan Pembaca pada umumnya , dan Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan.Saran, masukan, dan kritikan yang bersifat membangun sangat Penulis harapkan untuk perbaikan buku ini.
Air Putih, Desember 2019
Penulis
ENAKNYA
Enaknya
Yang punya jabatan dan kekuasaan
Bisa lakukan apapun sekehendak hati dan pikiran
Tanpa memikirkan sulit, susah ribet yang menjalankan
Yang penting kinerjanya kelihatan banyak orang
Aktif kreatif banyak rencana yang di realisasikan
Tak peduli pagi, siang ataupun malam
Telunjuk yang lentik tak henti bergoyang
Menunjuk sekeliling kiri dan kanan
Seiring pandangan yang mencari sasaran
Enaknya
Teriakan perintah terdengar berulang bergantian
Ayo segera siapkan !
Ayo segera kerjakan !
Ayo segera sampaikan !
Ayo segera realisasikan !
Ayo segera sukseskan!
Ayo siapkan alat dan bahan !
Ayo siapkan pembayaran!
Jangan lupa untuk makan-makan!
Berkoar tak perlu pengertian apalagi perhatian
Jauh tak sampai kebijaksanaan
Semua terjadi tanpa di rencanakan
yoens
Air Putih, Desember 2019
MENGINCAR
Perlahan jalan berputar
Menatap sekeliling mengincar
Detak jantung kencang berdebar
Meredam asa yang semakin liar
Bermula bisa bersabar
Ikuti alur sesuai nalar
Melangkah pasti karena tenar
Merasa diri paling pintar
Merasa diri paling benar
Kuasa sukma memudar
Mengumpat sesumbar
Berulang berkoar-koar
Terdengar Menggema menggelegar
Kilat petir sertai menyambar
Tak segan menampar
Luapkan amarah tanpa sadar
Serentak merintih disekitar
Bisikan istighfar
Kejauhan samar-samar
Tersebar Terdengar
Allohu Akbar
Allohu Akbar
Allohu akbar
Bangkitkan niat semangat berkobar
Semai iman sedemikian menghampar
Yoens
Air Putih, Desember 2019
ENE
Ene
Hanya itu panggilanmu yang kutahu
Anak – anak beserta cucu – cucumu
Semua memanggilmu Ene
Ene hanya panggilan singkat nenek
Ibu dari anak- anakmu
Yang kini sudah menjadi seorang ayah dan ibu.
Ene
Sosok wanita tangguh yang kukenal
Sepuluh putra dan putri lahir dari rahimmu
Sepuluh kali bahkan lebih Engkau pertaruhkan
Hidup mati nyawapun Engkau relakan
Demi keselamatan putra putrimu yang Kau sayang.
Ene
Banting tulang Kau perjuangkan
Siang malam selalu bertahan
Mencari nafkah dengan penuh kesusahan
Demi putra putrimu bisa makan
Bahkan berkesempatan mengenyam bangku sekolahan.
Ene
Maafkan aku anakmu yang durhaka ini
Telah suudzon berburuk sangka padamu
Kau buang aku kau pilih kasihkan aku
Kau biarkan aku hidup tanpa peluk kasihmu
Sementara sembilan kakak beradikku
Bisa hidup senang dan tenang dalam buaianmu
Ene
Maafkan aku anakmu yang berdosa ini
Pernah terselip kebencian dalam hatiku
Setelah kutahu Engkau ibu kandungku
Setelah kutahu mengapa hanya aku
Yang Engkau biarkan aku tanpa perhatianmu.
Ene
Maafkan aku anakmu yang dzolim ini
Setelah kini beranjak dewasa
Dan merasakan mempunyai keluarga kecil sendiri
Bersama suami dan anak-anak yang sehat
Baru ku mengetahui dan mengerti
Alasanmu semua untuk kebahagiaanku semata.
Ene
Kini kurasakan bagaimana lelah dan susahnya
Mencari materi untuk mencukupi anak dan keluarga
Betapa terpuruknya aku tanpa bantuan dan do’amu
Terlebih pertahankan hidup diperantauan
yang penuh halangan rintangan dan cacian
Ene
Maafkan aku yang lemah ini
Tetaplah do’akan dan bimbing aku
Walau jarak dan waktu yang memisahkan
Menjadi sekat dan jeda raga kita
Namun lekat erat dan dekat
Sukma kita dalam do’a
Yoens
AirPutih,Desember 2019
Kelu beku membisu
Biru lebam termangu
Menengadah hati jerambah
Tertatuh letih setiap langkah
Menopang sukma berkecamuk resah
Membelai raga pasrah menyerah
Bergejolak asa yang mulai gundah
Kuatkan iman yang sudah goyah
Bertubi-tubi ancaman memanah
Tancapkan luka bersimbah darah
Menyayat mengiris kulit berurat
Tuliskan takdirMU cepat tersirat
Menampar diri dari maksiat
Sekelebat kilat harap taubat
Istighfar setiap saat mendekat
Yakin percaya adanya malaikat
Setiap detik detak mencatat
Amal baik ataupun jahat
Tak kan keliru walau berdebat
Bersujud simpuh bermunajat
Dalam lindunganNya bisa selamat
Di dunia dan di akhirat
Yoens
Airputih ,13 Desember 2019
Senja enggan bertanya
Kapan kita kan berjumpa bersua
Hanya melambai menyapa
Hembusan angin di daun kelapa
Akankah waktu kita yang tersisa
Ulangi kenangan istimewa
Antara aku, kamu dan mereka
Beserta dia yang jauh disana
Hanya ceritanya saja
Yang terdengar samar tak sengaja
Berjuang bertahan ikhtiarnya
Cinta kasih sayang berbalut do’a
Tercurah sembah sujud munajat padaNYA
Maha Pemilik hati setiap hamba
Memberi tempat layak terbaik untuknya
Seharum dan seindah syurga
Yoens
Air Putih,13 Desember 2019
KEJAMNYA KEBEBASAN
Kebebasan itu hakmu
Percaya atau tidak terserahmu
Tak bisa kupaksakan kuharapkan
Istimewakan jauh dari buaian
Apresiasi jauh dari prestasi
Harta, tahta jauh dari kursi
Pasrah bukan ku tak perduli
Amarah membuncah pecah dihati
Menyemai kebencian yang terpatri
Tertanam tenggelam bak belati
Menusuk menancap sanubari
Berarak bergulung berkejaran
Putih berganti hitam kelam
Sinar mentari cerah memburam
Semilir angin tak lagi meredam
Berlari berlomba menuju malam
Senjapun tak kuasa terdiam
Terkunci hati mulut terbungkam
Petir menyambar bebas menikam
Menggelepar sukma melayang
Tinggalkan raga berserta bayang
Merekam jejak cerita siang
Hingga pagi datang menjelang
Yoens
Air Putih, 02 Desember 2019
PENYESALAN
Hancur kurasakan
Terperanjat tersadarkan
Terbelalak pandangan
Tersentak tak tertahankan
Sesak sesal tak terelakkan
Menghantam ulu hati tak berkesudahan
Menyayat sukma perih tak tertahankan
Gagal
Kembali ku menyesal
Aliran darah seakan menggumpal
Meredam asa yang setimpal
Hadiah buatku yang lalai
Berkedok topeng lemah gemulai
Sepak terjang tak pernah sampai
Menuju puncak tak tercapai
Sedih, semangat ataukah putus asa?
Tak ada pilihan yang berguna
Berusaha tegarkan raga siap sedia
Obati sukma ikhlas rela
Beranjak membasuh
Bersujud bersimpuh
Pasrahkan merapuh
Puaskan mengeluh
Berdo’a padaNYa senjata ampuh
Kuhanya insan biasa
Sudah berusaha semampuku
Jalankan semua aturan yang berlaku
Namun tak kuasa dengan kehendakNya
Sabar’ sabar ikhlas menerima
Yoens
Air Putih, 28 November 2019
TAK JEMU MERAYU
Detik berlalu seiring waktu
Detak jantung turut berpacu
Denyut nadi berlomba menuju hulu
Berlari berkejajaran tiada jemu
Selusuri arah jalan yang tertentu
Menyelinap sekejap hindari halu
Tersadar diri tersipu malu
Waktu itu
Bersamamu
Terdiam beku kelu membisu
Kendalikan angan yang kian menggebu
Tak jemu merayu
Dengan basuhan air wudhu
Yoens
Siak, 04 Januari 2020
CURIGAMU MEMBELENGGU
Insan lemah takdir ragaku
Tunduk patuh tak mengeluh
Pahit getir bengisnya liku kehidupan
Melalui Langkah kaki gontai berjalan
Menyusuri alur kehidupan
Menyambut hari memintal rasa
Berharap bisa wujudkan semua cita
Tergelincir diantara kerikil kecil
Tak berdarah namun terasa getir
Rinai buliran bening mengalir
Membersamai senja yang tersingkir
Sayup layu rona membisu
Menggapai rembulan tersipu
Asa meronta ragapun kaku
Terdiam terpaku
DIANTARA KITA
Tanpa sengaja dan rencana
Akhirnya kita bisa juga
Berjumpa dan bersua
Kembali membersamai senja
Setelah sekian lama
Waktu berlalu membentang jeda
Diantara kita berdua
Aku disini, kamu disana
Dalam satu kehidupan fana
Satu hal dan lain sebagainya
Menjeda kebersamaan kita
Merenggut pintalan kisah kasih yang ada
Sepanjang jalan kenangan dimasanya
Memang jelas kelihatan mata
Perbedaan itu fakta adanya
Hati berkata tak bisa memaksa
Kita berdua pernah bersama
Susah senang silih berganti
Panas dan hujanpun mengiringi
Merajut pintalan do’a setiap hari
Menjahit harap dan cita serta mimpi
Tak bersama bukan berarti
Do’a dan silaturahmi kan terhenti
Disini.
Yoens, Air Putih 07032020
HANYA LIBURAN BIASA
Hampir setiap hari setiap waktu
Bergelut dengan tas, pensil dan buku
Sudah menjadi tugas kewajibanmu
Seorang anak menuntut ilmu
Sebagai kelak bekal hidupmu
Kulihat tekad dan semangatmu
Kerjakan tugasmu tiada jemu
Berusaha untuk tepat waktu
Bertemu waktu berpadu
Buktikan hasil kerja kerasmu
SABAR
Berusaha berikhtiar
Merealisasikan semua rencana yang terpapar
Perlahan merangkak bertahap menebar
Benih – benih bibit yang terpilih berbinar
Berinovasi di antara semak belukar
Berusaha berikhtiar
Langkah gontai namun tegar
Menyusuri cobaan yang terhampar
Sesekali menggelitik mencubit menampar
Menusuk sukma pada raga yang hambar
Berusaha berikhtiar
Meracik bumbu dalam menu yang segar
Memilah persiapan segudang sabar
Menyuguhkan kreasi dan inovasi







0 komentar:
Posting Komentar