• perangkat KBM
  • Minggu, 15 Agustus 2021

    REKAM JEJAK DALAM GAWAI

     KATA PENGANTAR


    Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Buku Kumpulan Puisi “ Rekam Jejak dalam Sajak “ ini. Buku ini berisi puisi-puisi kehidupan sehari-hari yang  direkam Penulis dalam gawai  setiap peristiwanya.Berbagai perasaan muncul menjadi satu mewakili setiap peristiwa yang dialami tanpa bermaksud menyinggung siapapun yang mungkin kebetulan sama perasaan , tempat dan waktu yang tersusun dalam puisinya.

    Penulis mengucapkan terima kasih kepada suami tercinta (Asep Supriatna) dan Putra-putri tercinta (Aa Hafizh, Aa Ihsan dan Neng Jihan) yang telah banyak memberi dukungan dan pengertiannya selama Penulis menyusun puisi-puisinya.

    Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat untuk Penulis khususnya dan Pembaca pada umumnya , dan Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan.Saran, masukan, dan kritikan yang bersifat membangun sangat Penulis harapkan untuk perbaikan buku ini.


    Air Putih,  Desember 2019


    Penulis







    ENAKNYA


    Enaknya

    Yang punya jabatan dan kekuasaan

    Bisa lakukan apapun sekehendak hati dan pikiran

    Tanpa memikirkan sulit, susah ribet yang menjalankan

    Yang penting kinerjanya kelihatan banyak orang

    Aktif kreatif banyak rencana yang di realisasikan

    Tak peduli pagi, siang ataupun malam

    Telunjuk yang lentik tak henti  bergoyang

    Menunjuk sekeliling kiri dan kanan

    Seiring pandangan yang mencari sasaran

    Enaknya

    Teriakan perintah terdengar berulang bergantian

    Ayo segera siapkan !

    Ayo segera kerjakan !

    Ayo segera sampaikan !

    Ayo segera realisasikan !

     Ayo segera sukseskan!

     Ayo siapkan alat dan bahan !

    Ayo siapkan pembayaran!

    Jangan lupa untuk makan-makan!

    Berkoar tak perlu pengertian apalagi perhatian

    Jauh tak sampai kebijaksanaan

    Semua terjadi tanpa di rencanakan


    yoens

    Air Putih, Desember 2019



    MENGINCAR


    Perlahan jalan berputar

    Menatap sekeliling mengincar

    Detak jantung kencang berdebar

    Meredam asa yang semakin liar

    Bermula  bisa bersabar

    Ikuti alur sesuai nalar

    Melangkah pasti karena tenar

    Merasa diri paling pintar

    Merasa diri paling benar

    Kuasa sukma  memudar

    Mengumpat sesumbar

    Berulang berkoar-koar

    Terdengar Menggema menggelegar

    Kilat petir sertai menyambar

    Tak segan menampar

    Luapkan amarah tanpa sadar

    Serentak merintih disekitar

    Bisikan istighfar

    Kejauhan samar-samar

    Tersebar Terdengar

    Allohu Akbar

    Allohu Akbar

    Allohu akbar

    Bangkitkan niat semangat berkobar

    Semai iman sedemikian menghampar


    Yoens

    Air Putih, Desember 2019


    ENE

    Ene

    Hanya itu panggilanmu yang kutahu

    Anak – anak beserta cucu – cucumu

    Semua memanggilmu Ene

    Ene hanya panggilan singkat nenek

    Ibu dari anak- anakmu 

    Yang kini sudah menjadi seorang ayah dan ibu.

    Ene

    Sosok wanita tangguh yang kukenal

    Sepuluh putra dan putri lahir dari rahimmu

    Sepuluh kali bahkan lebih Engkau pertaruhkan 

    Hidup mati nyawapun Engkau relakan

    Demi keselamatan putra putrimu yang Kau sayang.

    Ene

    Banting tulang Kau perjuangkan

    Siang malam selalu bertahan

    Mencari nafkah dengan penuh kesusahan

    Demi putra putrimu bisa makan

    Bahkan berkesempatan mengenyam bangku sekolahan.

    Ene

    Maafkan aku anakmu yang durhaka ini

    Telah suudzon berburuk sangka padamu

    Kau buang aku kau pilih kasihkan aku

    Kau biarkan aku hidup tanpa peluk kasihmu

    Sementara sembilan kakak beradikku 

    Bisa hidup senang dan tenang dalam buaianmu

    Ene

    Maafkan aku anakmu yang berdosa ini

    Pernah terselip kebencian dalam hatiku

    Setelah kutahu Engkau ibu kandungku

    Setelah kutahu mengapa hanya aku

    Yang Engkau biarkan aku tanpa perhatianmu.

    Ene

    Maafkan aku anakmu yang dzolim ini

    Setelah kini beranjak dewasa

    Dan merasakan mempunyai keluarga  kecil sendiri

    Bersama suami dan anak-anak yang sehat

    Baru ku mengetahui dan mengerti

    Alasanmu semua untuk kebahagiaanku semata.

    Ene

    Kini kurasakan bagaimana lelah dan susahnya

    Mencari materi untuk mencukupi anak dan keluarga

    Betapa terpuruknya aku tanpa bantuan dan do’amu

    Terlebih pertahankan hidup diperantauan

    yang penuh halangan rintangan dan cacian

    Ene

    Maafkan aku yang lemah ini

    Tetaplah do’akan dan bimbing aku

    Walau jarak dan waktu yang memisahkan

    Menjadi sekat dan jeda raga kita

    Namun lekat erat dan dekat

    Sukma kita dalam do’a


    Yoens

    AirPutih,Desember 2019


    Kelu beku membisu

    Biru lebam termangu

    Menengadah hati jerambah

    Tertatuh letih setiap langkah

    Menopang sukma berkecamuk resah

    Membelai raga pasrah menyerah 

    Bergejolak asa yang mulai gundah

    Kuatkan iman yang sudah goyah


    Bertubi-tubi ancaman memanah

    Tancapkan luka bersimbah darah

    Menyayat mengiris kulit berurat

    Tuliskan takdirMU cepat tersirat

    Menampar diri dari maksiat

    Sekelebat kilat harap taubat

    Istighfar setiap saat mendekat


    Yakin percaya adanya malaikat

    Setiap detik detak mencatat

    Amal baik ataupun jahat

    Tak kan keliru walau berdebat

    Bersujud simpuh bermunajat

    Dalam lindunganNya bisa selamat

    Di dunia dan di akhirat


    Yoens

    Airputih ,13 Desember 2019


    Senja enggan bertanya

    Kapan kita kan berjumpa bersua

    Hanya  melambai menyapa

    Hembusan angin di daun kelapa

    Akankah waktu kita yang tersisa

    Ulangi kenangan istimewa

    Antara aku, kamu dan mereka

    Beserta dia yang jauh disana


    Hanya ceritanya saja

    Yang terdengar samar tak sengaja

    Berjuang bertahan ikhtiarnya

    Cinta kasih sayang berbalut do’a

    Tercurah sembah sujud munajat padaNYA

    Maha Pemilik hati setiap hamba

    Memberi tempat layak terbaik untuknya

    Seharum dan seindah syurga



    Yoens

    Air Putih,13 Desember 2019




    KEJAMNYA KEBEBASAN

    Kebebasan itu hakmu

    Percaya atau tidak terserahmu

    Tak bisa kupaksakan kuharapkan

    Istimewakan jauh dari buaian

    Apresiasi jauh dari prestasi

    Harta, tahta jauh dari kursi

    Pasrah bukan ku tak perduli

    Amarah membuncah pecah dihati

    Menyemai kebencian yang terpatri

    Tertanam tenggelam bak belati

    Menusuk menancap sanubari

    Berarak bergulung berkejaran

    Putih berganti hitam kelam

    Sinar mentari cerah memburam

    Semilir angin tak lagi meredam

    Berlari berlomba menuju malam

    Senjapun tak kuasa terdiam

    Terkunci hati mulut terbungkam

    Petir menyambar bebas menikam

    Menggelepar sukma melayang

    Tinggalkan raga berserta bayang

    Merekam jejak cerita siang

    Hingga pagi datang menjelang


    Yoens

    Air Putih, 02 Desember 2019

    PENYESALAN


    Hancur kurasakan

    Terperanjat tersadarkan

    Terbelalak pandangan

    Tersentak tak tertahankan

    Sesak sesal tak terelakkan

    Menghantam ulu hati tak berkesudahan

    Menyayat sukma perih tak tertahankan

    Gagal

    Kembali ku menyesal

    Aliran darah seakan menggumpal

    Meredam asa yang setimpal

    Hadiah buatku yang lalai

    Berkedok topeng lemah gemulai

    Sepak terjang tak pernah sampai

    Menuju puncak tak tercapai 

    Sedih, semangat ataukah putus asa?

    Tak ada pilihan yang berguna

    Berusaha tegarkan raga siap sedia

    Obati sukma ikhlas rela

    Beranjak membasuh

     Bersujud bersimpuh

     Pasrahkan merapuh

    Puaskan mengeluh

    Berdo’a padaNYa senjata ampuh

    Kuhanya insan biasa

     Sudah berusaha semampuku

     Jalankan semua aturan yang berlaku

    Namun tak kuasa dengan kehendakNya

    Sabar’ sabar ikhlas menerima


    Yoens

    Air Putih, 28 November 2019 



    TAK JEMU MERAYU


    Detik berlalu seiring waktu

    Detak jantung turut berpacu

    Denyut nadi berlomba menuju hulu

    Berlari berkejajaran tiada jemu

    Selusuri arah jalan yang tertentu

    Menyelinap  sekejap hindari halu

    Tersadar diri tersipu malu

    Waktu itu

    Bersamamu

    Terdiam beku kelu membisu

    Kendalikan angan yang kian menggebu

    Tak jemu merayu

    Dengan basuhan air wudhu


    Yoens

    Siak, 04 Januari 2020



    CURIGAMU MEMBELENGGU


    Insan lemah takdir ragaku

    Tunduk patuh tak mengeluh

    Pahit getir bengisnya liku kehidupan 

    Melalui Langkah kaki gontai berjalan

    Menyusuri alur kehidupan

    Menyambut hari memintal rasa

    Berharap bisa wujudkan semua cita

    Tergelincir diantara kerikil kecil 

    Tak berdarah namun terasa getir

    Rinai buliran bening mengalir

    Membersamai senja yang tersingkir

    Sayup layu rona membisu 

    Menggapai rembulan tersipu

    Asa meronta ragapun kaku

    Terdiam terpaku 



    DIANTARA KITA


    Tanpa sengaja dan rencana

    Akhirnya kita bisa juga

    Berjumpa dan bersua

    Kembali membersamai senja

    Setelah sekian lama

    Waktu berlalu membentang jeda

    Diantara kita berdua

    Aku disini, kamu disana

    Dalam satu kehidupan fana

    Satu hal dan lain sebagainya

    Menjeda kebersamaan kita

    Merenggut  pintalan kisah kasih yang ada

    Sepanjang jalan kenangan dimasanya

    Memang jelas kelihatan mata

    Perbedaan itu fakta adanya

    Hati berkata tak bisa memaksa

    Kita berdua pernah bersama

    Susah senang silih berganti

    Panas dan hujanpun mengiringi

    Merajut pintalan do’a setiap hari

    Menjahit harap dan cita serta mimpi

    Tak bersama bukan berarti

    Do’a dan silaturahmi kan terhenti

    Disini.

    Yoens, Air Putih 07032020


    HANYA LIBURAN BIASA

    Hampir setiap hari setiap waktu

    Bergelut dengan tas, pensil dan buku

    Sudah menjadi tugas kewajibanmu

    Seorang anak menuntut ilmu

    Sebagai kelak bekal hidupmu

    Kulihat tekad dan semangatmu

    Kerjakan tugasmu tiada jemu

    Berusaha untuk tepat waktu

    Bertemu waktu berpadu

    Buktikan hasil kerja kerasmu



    SABAR

    Berusaha berikhtiar

    Merealisasikan semua rencana yang terpapar

    Perlahan merangkak bertahap menebar

    Benih – benih bibit yang terpilih berbinar

    Berinovasi di antara semak belukar

    Berusaha berikhtiar

    Langkah gontai namun tegar

    Menyusuri cobaan yang terhampar

    Sesekali menggelitik mencubit menampar

    Menusuk sukma pada  raga yang hambar

    Berusaha berikhtiar

    Meracik bumbu dalam menu yang segar

    Memilah persiapan segudang sabar

    Menyuguhkan kreasi dan inovasi 

    0 komentar:

    Posting Komentar